Pages

Selasa, 19 Juni 2012

Anak Autis (Mirza Maulana)


AUTIS DAN PERMASALAHANNYA
Autisme
Autisme terjadi pada lima dari setiap 10.000 kelahiran, di mana jumlah penderita laki-laki empat kali lebih besar dibandingkan penderita wanita. Gejala-gejala autisme mulai tampak sejak masa yang paling awal dalam kehidupan mereka. Gejala-gejala tersebut tampak ketika bayi menolak sentuhan orangtuanya, tidak merespon kehadiran orangtuanya, dan melakukan kebiasaan-kebiasaan lainnya yang tidak dilakukan oleh bayi-bayi normal pada umumnya.
Bila mengevaluasi kebiasaan penderita autisme, kita juga harus mempertimbangkan usia mereka. Pada usia 2-5 tahun, mereka cenderung memiliki kebiasaan yang sangat buruk, tetapi tatkala menginjak usia 6-10 tahun, perilaku mereka akan membaik. Tetapi, perilaku itu akan cenderung memburuk kembali saat mereka memasuki usia remaja serta dewasa, dan selanjutnya akan kembali membaik seiring dengan bertambah tuanya usia mereka.

Sehubungan dengan aspek sosial kemasyarakatan, disebutkan bahwa anak penderita autisme terbiasa untuk sibuk dengan dirinya sendiri ketimbang bersosialisasi dengan lingkunganya. Mereka sangat teobsesi dengan benda-benda mati. Selain itu, anak-anak penderita autisme tidak memiliki kemampuan untuk menjalin hubungan persahabatan, menunjukkan rasa empati, serta memahami apa yang diharapkan oleh orang lain dalam beragam situasi sosial.




PENANGANAN DINI BAGI ANAK AUTIS
                               a.            Intervensi Dini
Autisme memang merupakan gangguan neurobiologis yang menetap. Gejalanya tampak pada gangguan bidang komunikasi, interaksi, dan perilaku. Walaupun gangguan neurobiologis tidak bisa diobati, tapi gejala-gejalanya bisa dihilangkan atau dikurangi. Intervensi bisa dilakukan dengan berbagai cara. Yang penting, berusaha merangsang anak secara intensif sedini mungkin pada usia 2-5 tahun, sehingga ia mampu keluar dari “dunia”-nya.

                              b.            Dibantu Terapi di Rumah
Salah satu intervensi dini yang banyak diterapkan di Indonesia adalah modifikasi perilaku atau lebih dikenal sebagai metoda Applied Behavioral Analysis (ABA). Melalui metode ini, anak dilatih melakukan berbagai macam keterampilan yang berguna bagi kehidupan bermasyarakat. Misalnya berkomunikasi, berinteraksi, berbicara, berbahasa, dan seterusnya.
Di Indonesia, metoda modifikasi ini lebih dikenal sebagai Metoda Lovaas (nama orang yang mengembangkan) yang oleh Yayasan Autisma Indonesia (YAI) terus disebarluaskan. Secara berkala, YAI mengadakan pelatihan bagi orangtua penyandang agar mereka bisa melakukan sendiri terapi di rumah. Namun pelaksanaanya harus benar-benar tepat. Kalau sampai salah, hasilnya akan mengecewakan sehingga tentu akan merugikan si anak.

                               c.            Masuk Kelompok Khusus
Biasanya setelah 1-2 tahun menjalani intervensi dini dengan baik, si anak siap untuk masuk ke kelompok kecil. Permasalahan anak autis di sekolah umum yang menonjol antara lain kurangnya kemampuan berkonsentrasi, perilaku yang tidak patuh, serta kesulitan bersosialisasi. Sebab itu, pada beberapa bulan pertama mereka masih memerlukan pendamping kelas. Pendamping ini membantu guru mengendalikan perilaku si anak dan mengingatkan anak setiap kali perhatiannya beralih. Begitu si anak mampu menyesuaikan diri dalam kelas, pendamping tidak perlu lagi.




KESULITAN MAKAN PADA PENDERITA AUTIS
Kesulitan makan bukanlah gejala atau penyakit, tetapi merupakn gejala atau tanda adanya penyimpangan, kelainan dan penyakit yang sedang terjadi pada tubuh anak. Pengertian kesulitan makan dalah jika anak tidak mau atau menolak untuk makam, atau mengalami kesulitan mengonsumsi makanan atau minuman dengan jenis dan jumlah sesuai usia ecara fisiologis (alamiah dan wajar), yaitu mulai dari membuka mulutnya tanpa paksaan, mmengunyah, menelan hingga sampai terserap di pencernaan secara baik tanpa paksaan dan tanpa pemberian vitamin dan obat tertentu.

Penyebab
Secara umum, penyebab umum kesulitan makan pada anak dibedakan dalam 3 faktor, diantaranya adalah hilang nafsu makan, gangguan proses makan di mulut dan pengaruh psikologis. Beberapa faktor tersebut dapat berdiri sendiri tetapi sering kali terjadi lebih dari 1 faktor. Pada penderita autis penyebab paling sering yang terjadi adalah gangguan nafsu makan dan gangguan proses makan. Gangguan nafsu makan tampaknya merupakn penyebab utama masalah kesulitan pada anak. Tampilan gangguan nafsu makan yang ringan berupa minum susu botol sering sisa, waktu minum ASI berkurang (sebelumnya 20 menit menjadi 10 menit), makan hanya sedikit atau mengeluarkan, menyembur-nyemburkan makanan atau menahan makanan di mulut terlalu lama. Gangguan saluran pencernaan tampaknya merupakn faktor penyebab terpenting dalam gangguan proses makan di mulut. Hal ini dapat dijelaskan dengan teori “Gut brain Axis”. Teori ini menunjukkan bahwa bila terdapat gangguan saluran cerna, maka hal itu kan memengaruhi fungsi saluran saraf pusat atau otak. Gangguan fungsi susunan saraf pusat tersebut berupa gangguan neuroanatomis dan neurofungsional. Salah satu manifestasi klinis yang terjadi adalah gangguan koordinasi motorik kasar mulut.

Penangan Kesulitan Makan Pada Penderita Autis
Beberapa langkah yang dilakukan pada penatapelaksanaan kesulitan makan pada anak adalah: (1) Pastikan apakah betul anak mengalami kesulitan makan: (2) Cari penyebab kesulitan makanan pada anak: (3) Identifikasi adakah komplikasi yang terjadi: (4) Pemberian pengobatan terhadap penyebab: (5) Bila penyebabnya gangguan saluran cerna (seperti alergi, intoleransi atau coeliac), hindari makanan tertentu yang menjadi penyebab gangguan.
Bila kesulitan makan itu berkepanjangan dan lebih dari 2 minggu, sebaiknya harus segera berkonsultasi dengan dokter keluarga atau dokter anak yang yang bisa merawat. Penanganan kesulitan makan yang paling baik adalah dengan mengobati atau menengani penyebab tersebut secara langsung.

PENANGANAN AUTISME SECARA TERPADU
                              1.            Terapi  Wicara
Terapi wicara adalah suatu keharusan autisme, karena semua penyandang autisme mempunyai keterlambatan bicara dan kesulitan berbahasa. Menerapkan terapi wicara pada penyandang autisme berbeda dari anak lain. Terapis sebaiknya dibekali dengan pengetahuan yang cukup mendalam tentang gejala-gejala dan gangguan bicara yang khas dari para penyandang autisme.
                              2.            Terapi Perilaku
Terapi perilaku sangat penting untuk membantu para penyandang autisme untuk lebih bisa menyesuaikan diri dalam masyarakat. Bukan saja gurunya yang harus melakukan terapi perilaku pada saat belajar, namun setiap anggota keluarga di rumah harus bersikap sam dan konsisten dalam menghadapi penyandang autis.
                              3.            Pendidikan Khusus
Pendidikan individual yang terstruktur bagi para penyandang autisme. Pada pendidikan ini diterapkan sistem satu guru untuk satu anak. Sistem ii paling efektif karena mereka tak mungkin dapat memusatkan perhatiannya dalam suatu kelas yang benar. Untuk penyandang autisme yang sedang atau berat sebaiknya diberikan pendidikan individual dahulu, setelah mengalami kemajuan secara bertahap ia bisa dicoba dimasukkan ke dalam kelas dengan kelompok kecil, misalnya 2-5 anak per kelas. 

0 komentar:

Posting Komentar