AUTIS DAN
PERMASALAHANNYA
Autisme
Autisme terjadi pada lima dari setiap 10.000 kelahiran,
di mana jumlah penderita laki-laki empat kali lebih besar dibandingkan
penderita wanita. Gejala-gejala autisme mulai tampak sejak masa yang paling
awal dalam kehidupan mereka. Gejala-gejala tersebut tampak ketika bayi menolak
sentuhan orangtuanya, tidak merespon kehadiran orangtuanya, dan melakukan
kebiasaan-kebiasaan lainnya yang tidak dilakukan oleh bayi-bayi normal pada
umumnya.
Bila mengevaluasi kebiasaan penderita autisme, kita juga
harus mempertimbangkan usia mereka. Pada usia 2-5 tahun, mereka cenderung
memiliki kebiasaan yang sangat buruk, tetapi tatkala menginjak usia 6-10 tahun,
perilaku mereka akan membaik. Tetapi, perilaku itu akan cenderung memburuk
kembali saat mereka memasuki usia remaja serta dewasa, dan selanjutnya akan
kembali membaik seiring dengan bertambah tuanya usia mereka.
Sehubungan dengan aspek sosial kemasyarakatan, disebutkan
bahwa anak penderita autisme terbiasa untuk sibuk dengan dirinya sendiri
ketimbang bersosialisasi dengan lingkunganya. Mereka sangat teobsesi dengan
benda-benda mati. Selain itu, anak-anak penderita autisme tidak memiliki
kemampuan untuk menjalin hubungan persahabatan, menunjukkan rasa empati, serta
memahami apa yang diharapkan oleh orang lain dalam beragam situasi sosial.
PENANGANAN DINI BAGI ANAK AUTIS
a.
Intervensi Dini
Autisme
memang merupakan gangguan neurobiologis yang menetap. Gejalanya tampak pada
gangguan bidang komunikasi, interaksi, dan perilaku. Walaupun gangguan
neurobiologis tidak bisa diobati, tapi gejala-gejalanya bisa dihilangkan atau
dikurangi. Intervensi bisa dilakukan dengan berbagai cara. Yang penting,
berusaha merangsang anak secara intensif sedini mungkin pada usia 2-5 tahun,
sehingga ia mampu keluar dari “dunia”-nya.
b.
Dibantu Terapi di Rumah
Salah
satu intervensi dini yang banyak diterapkan di Indonesia adalah modifikasi
perilaku atau lebih dikenal sebagai metoda Applied Behavioral Analysis (ABA).
Melalui metode ini, anak dilatih melakukan berbagai macam keterampilan yang
berguna bagi kehidupan bermasyarakat. Misalnya berkomunikasi, berinteraksi,
berbicara, berbahasa, dan seterusnya.
Di
Indonesia, metoda modifikasi ini lebih dikenal sebagai Metoda Lovaas (nama
orang yang mengembangkan) yang oleh Yayasan Autisma Indonesia (YAI) terus
disebarluaskan. Secara berkala, YAI mengadakan pelatihan bagi orangtua
penyandang agar mereka bisa melakukan sendiri terapi di rumah. Namun
pelaksanaanya harus benar-benar tepat. Kalau sampai salah, hasilnya akan
mengecewakan sehingga tentu akan merugikan si anak.
c.
Masuk Kelompok
Khusus
Biasanya
setelah 1-2 tahun menjalani intervensi dini dengan baik, si anak siap untuk
masuk ke kelompok kecil. Permasalahan anak autis di sekolah umum yang menonjol
antara lain kurangnya kemampuan berkonsentrasi, perilaku yang tidak patuh,
serta kesulitan bersosialisasi. Sebab itu, pada beberapa bulan pertama mereka
masih memerlukan pendamping kelas. Pendamping ini membantu guru mengendalikan
perilaku si anak dan mengingatkan anak setiap kali perhatiannya beralih. Begitu
si anak mampu menyesuaikan diri dalam kelas, pendamping tidak perlu lagi.
KESULITAN
MAKAN PADA PENDERITA AUTIS
Kesulitan makan bukanlah gejala atau penyakit, tetapi
merupakn gejala atau tanda adanya penyimpangan, kelainan dan penyakit yang
sedang terjadi pada tubuh anak. Pengertian kesulitan makan dalah jika anak
tidak mau atau menolak untuk makam, atau mengalami kesulitan mengonsumsi
makanan atau minuman dengan jenis dan jumlah sesuai usia ecara fisiologis
(alamiah dan wajar), yaitu mulai dari membuka mulutnya tanpa paksaan,
mmengunyah, menelan hingga sampai terserap di pencernaan secara baik tanpa
paksaan dan tanpa pemberian vitamin dan obat tertentu.
Penyebab
Secara umum, penyebab umum kesulitan makan pada anak
dibedakan dalam 3 faktor, diantaranya adalah hilang nafsu makan, gangguan
proses makan di mulut dan pengaruh psikologis. Beberapa faktor tersebut dapat
berdiri sendiri tetapi sering kali terjadi lebih dari 1 faktor. Pada penderita
autis penyebab paling sering yang terjadi adalah gangguan nafsu makan dan
gangguan proses makan. Gangguan nafsu makan tampaknya merupakn penyebab utama
masalah kesulitan pada anak. Tampilan gangguan nafsu makan yang ringan berupa
minum susu botol sering sisa, waktu minum ASI berkurang (sebelumnya 20 menit
menjadi 10 menit), makan hanya sedikit atau mengeluarkan, menyembur-nyemburkan
makanan atau menahan makanan di mulut terlalu lama. Gangguan saluran pencernaan
tampaknya merupakn faktor penyebab terpenting dalam gangguan proses makan di
mulut. Hal ini dapat dijelaskan dengan teori “Gut brain Axis”. Teori ini
menunjukkan bahwa bila terdapat gangguan saluran cerna, maka hal itu kan
memengaruhi fungsi saluran saraf pusat atau otak. Gangguan fungsi susunan saraf
pusat tersebut berupa gangguan neuroanatomis dan neurofungsional. Salah satu
manifestasi klinis yang terjadi adalah gangguan koordinasi motorik kasar mulut.
Penangan Kesulitan
Makan Pada Penderita Autis
Beberapa langkah yang dilakukan pada penatapelaksanaan
kesulitan makan pada anak adalah: (1) Pastikan apakah betul anak mengalami
kesulitan makan: (2) Cari penyebab kesulitan makanan pada anak: (3)
Identifikasi adakah komplikasi yang terjadi: (4) Pemberian pengobatan terhadap
penyebab: (5) Bila penyebabnya gangguan saluran cerna (seperti alergi,
intoleransi atau coeliac), hindari
makanan tertentu yang menjadi penyebab gangguan.
Bila kesulitan makan itu berkepanjangan dan lebih dari 2
minggu, sebaiknya harus segera berkonsultasi dengan dokter keluarga atau dokter
anak yang yang bisa merawat. Penanganan kesulitan makan yang paling baik adalah
dengan mengobati atau menengani penyebab tersebut secara langsung.
PENANGANAN
AUTISME SECARA TERPADU
1.
Terapi Wicara
Terapi
wicara adalah suatu keharusan autisme, karena semua penyandang autisme
mempunyai keterlambatan bicara dan kesulitan berbahasa. Menerapkan terapi
wicara pada penyandang autisme berbeda dari anak lain. Terapis sebaiknya
dibekali dengan pengetahuan yang cukup mendalam tentang gejala-gejala dan
gangguan bicara yang khas dari para penyandang autisme.
2.
Terapi Perilaku
Terapi
perilaku sangat penting untuk membantu para penyandang autisme untuk lebih bisa
menyesuaikan diri dalam masyarakat. Bukan saja gurunya yang harus melakukan
terapi perilaku pada saat belajar, namun setiap anggota keluarga di rumah harus
bersikap sam dan konsisten dalam menghadapi penyandang autis.
3.
Pendidikan Khusus
Pendidikan
individual yang terstruktur bagi para penyandang autisme. Pada pendidikan ini
diterapkan sistem satu guru untuk satu anak. Sistem ii paling efektif karena
mereka tak mungkin dapat memusatkan perhatiannya dalam suatu kelas yang benar.
Untuk penyandang autisme yang sedang atau berat sebaiknya diberikan pendidikan
individual dahulu, setelah mengalami kemajuan secara bertahap ia bisa dicoba
dimasukkan ke dalam kelas dengan kelompok kecil, misalnya 2-5 anak per kelas.

0 komentar:
Posting Komentar